Algoritma Resusitasi Neonatus (IDAI 2022)

DELTA DC | Angka kematian neonatus di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, dengan asfiksia dan berat badan lahir rendah (BBLR) sebagai dua penyebab utama yang berkontribusi besar terhadap mortalitas bayi baru lahir. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan neonatal. Mengingat resusitasi neonatus merupakan intervensi krusial dalam menit-menit pertama kehidupan, keberadaan pedoman yang terstandardisasi dan berbasis bukti menjadi kebutuhan mendasar bagi seluruh tenaga kesehatan yang menangani persalinan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neonatologi secara berkala melakukan pembaruan terhadap alur resusitasi neonatus nasional. Algoritma ini direvisi setiap lima tahun sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan berdasarkan perkembangan bukti ilmiah terkini. Pembaruan tahun 2022 disusun mengacu pada rekomendasi International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) 2020, yang kemudian didraf oleh UKK Neonatologi, disempurnakan oleh anggota dari berbagai senter pendidikan maupun non-pendidikan di seluruh Indonesia, dan disahkan oleh Ketua Umum IDAI untuk berlaku sebagai acuan nasional selama lima tahun ke depan.

Alur ini ditujukan sebagai panduan bagi seluruh tenaga kesehatan di Indonesia — baik di fasilitas PONED maupun PONEK — dalam memberikan pelayanan resusitasi neonatus, sekaligus menjadi acuan bagi institusi pendidikan tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan bidan), termasuk dalam konteks evaluasi kompetensi seperti ujian OSCE.

Perlu digarisbawahi bahwa secara prinsip, alur resusitasi neonatus IDAI 2022 tidak bertentangan dengan pedoman American Academy of Pediatrics/American Heart Association (AAP/AHA). Perbedaannya lebih pada tingkat kerincian: alur IDAI dibuat tampak lebih kompleks dibandingkan alur AAP yang lebih sederhana, karena beberapa langkah yang dikhawatirkan luput dari perhatian tenaga kesehatan di Indonesia — misalnya langkah koreksi ventilasi, penggunaan CPAP, pemberian oksigen aliran bebas, serta penggunaan monitor jantung (cardiac monitor) — dituliskan secara lebih detail dalam alur IDAI. Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik tenaga kesehatan dan kondisi bayi di Indonesia, namun tetap berpijak pada rekomendasi ilmiah ILCOR 2020.

Beberapa penekanan kunci dalam pembaruan 2022 antara lain mencakup penilaian transisi fisiologis bayi baru lahir dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin, kesiapan alat resusitasi menggunakan pendekatan sistematis T-A-B-C-D (Termoregulasi, Airway, Breathing, Circulation, Drugs), penggunaan monitor EKG, penetapan target saturasi oksigen berdasarkan usia kehamilan, serta penguatan koordinasi tim resusitasi untuk memastikan tata laksana yang optimal bagi neonatus yang membutuhkan bantuan.

Dengan demikian, pembaruan alur resusitasi neonatus IDAI 2022 merupakan bagian dari upaya sistematis menurunkan angka kematian neonatus di Indonesia melalui standardisasi kompetensi dan tata laksana yang adaptif terhadap kondisi lokal, tanpa mengesampingkan basis bukti ilmiah internasional yang berlaku.

Algoritma Resusitasi Neonatus (IDAI 2022) : Download

Previous Post Next Post