EKG Dasar

DELTA DC | Buku Ajar EKG Dasar Oleh : Fernando Lenta

BUKU AJAR EKG DASAR

Panduan Komprehensif Interpretasi Elektrokardiogram

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, buku ajar "EKG Dasar: Panduan Komprehensif Interpretasi Elektrokardiogram" ini dapat diselesaikan.

Elektrokardiogram (EKG) merupakan salah satu alat diagnostik yang paling penting dan sering digunakan dalam praktik klinis. Kemampuan untuk menginterpretasikan EKG dengan akurat adalah keterampilan fundamental yang harus dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan, terutama perawat, dokter, dan tenaga medis lainnya yang menangani pasien dengan masalah kardiovaskular.

Buku ini disusun secara sistematis, dimulai dari pemahaman dasar anatomi dan fisiologi jantung, prinsip perekaman EKG, hingga langkah-langkah interpretasi yang terstruktur. Bab-bab akhir membahas secara mendalam mengenai aritmia yang mengancam jiwa (lethal arrhythmias) dan perubahan EKG pada sindrom koroner akut (ACS), yang merupakan kondisi-kondisi kritis yang memerlukan pengenalan dan penanganan segera.

Referensi utama dalam buku ini mengacu pada sumber-sumber internasional terpercaya, termasuk *ECGs Made Easy* oleh Barbara Aehlert , panduan dari National Institutes of Health (NIH) , serta berbagai literatur terkini dari penerbit internasional terkemuka.

Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga buku ini memberikan manfaat yang besar bagi para pembaca dalam meningkatkan kompetensi klinis di bidang interpretasi EKG.

Tim Penulis

---

### DAFTAR ISI

**KATA PENGANTAR**

**DAFTAR ISI**

**BAB 1 ANATOMI DAN FISIOLOGI JANTUNG**

1.1 Letak, Ukuran, dan Bentuk Jantung

1.2 Lapisan Dinding Jantung

1.3 Ruang-ruang Jantung dan Aliran Darah

1.4 Katup-katup Jantung

1.5 Sistem Konduksi Listrik Jantung

    1.5.1 Nodus Sinoatrial (SA Node)

    1.5.2 Nodus Atrioventrikular (AV Node)

    1.5.3 Berkas His dan Cabang Berkas

    1.5.4 Serat Purkinje

1.6 Siklus Jantung dan Aktivitas Listrik

    1.6.1 Fase-fase Siklus Jantung

    1.6.2 Hubungan EKG dengan Siklus Jantung

**BAB 2 PEREKAMAN EKG, KERTAS EKG, DAN SATUAN DALAM EKG**

2.1 Prinsip Dasar Perekaman EKG

2.2 Sistem 12 Sandapan (Leads)

    2.2.1 Sandapan Ekstremitas (I, II, III)

    2.2.2 Sandapan Augmentasi (aVR, aVL, aVF)

    2.2.3 Sandapan Prekordial (V1-V6)

2.3 Kertas EKG: Karakteristik dan Pengukuran

    2.3.1 Sistem Grid pada Kertas EKG

    2.3.2 Kecepatan Perekaman dan Kalibrasi

2.4 Satuan dan Interval Waktu dalam EKG

**BAB 3 PEMBENTUKAN GELOMBANG EKG**

3.1 Dasar Elektrofisiologi Jantung

    3.1.1 Potensial Aksi Jantung

    3.1.2 Depolarisasi dan Repolarisasi

3.2 Gelombang dan Interval EKG

    3.2.1 Gelombang P

    3.2.2 Interval PR

    3.2.3 Kompleks QRS

    3.2.4 Segmen ST

    3.2.5 Gelombang T

    3.2.6 Interval QT

3.3 Vektor dan Sudut Listrik Jantung

**BAB 4 LANGKAH-LANGKAH MEMBACA EKG**

4.1 Persiapan Sebelum Interpretasi

    4.1.1 Verifikasi Identitas Pasien dan Kualitas Rekaman

    4.1.2 Kecepatan dan Kalibrasi

4.2 Langkah Sistematis Interpretasi EKG

    4.2.1 Menentukan Irama dan Reguleritas

    4.2.2 Menghitung Frekuensi Jantung

    4.2.3 Menentukan Sumbu Listrik Jantung

    4.2.4 Analisis Gelombang P

    4.2.5 Pengukuran Interval PR

    4.2.6 Analisis Kompleks QRS

    4.2.7 Analisis Segmen ST

    4.2.8 Analisis Gelombang T

    4.2.9 Pengukuran Interval QT

4.3 Sintesis dan Korelasi Klinis

**BAB 5 EKG PADA ARITMIA YANG MENGANCAM JIWA (LETHAL ARRHYTHMIAS)**

5.1 Definisi dan Klasifikasi Aritmia

5.2 Takikardia Ventrikel (Ventricular Tachycardia/VT)

    5.2.1 Gambaran EKG

    5.2.2 Tatalaksana Awal

5.3 Fibrilasi Ventrikel (Ventricular Fibrillation/VF)

    5.3.1 Gambaran EKG

    5.3.2 Tatalaksana Awal

5.4 Asistol (Cardiac Standstill)

    5.4.1 Gambaran EKG

    5.4.2 Tatalaksana Awal

5.5 Aktivitas Listrik Tanpa Denyut (Pulseless Electrical Activity/PEA)

5.6 Sindrom QT Panjang dan Risiko Aritmia

**BAB 6 EKG PADA PASIEN DENGAN SINDROM KORONER AKUT (ACS)**

6.1 Definisi dan Patofisiologi ACS

6.2 Perubahan EKG pada Iskemia, Cedera, dan Infark

    6.2.1 Iskemia: Gelombang T Inverted

    6.2.2 Cedera: Elevasi Segmen ST

    6.2.3 Infark: Gelombang Q Patologis

6.3 Infark Miokard dengan Elevasi ST (STEMI)

    6.3.1 Kriteria Diagnostik

    6.3.2 Lokalisasi Infark Berdasarkan Sandapan

6.4 Infark Miokard Tanpa Elevasi ST (NSTEMI) dan Angina Tidak Stabil

6.5 Mimikri STEMI: Diagnosis Banding

6.6 Perubahan EKG Dinamik pada ACS

**GLOSARIUM**

**DAFTAR PUSTAKA**

**INDEKS**

---

### BAB 1: ANATOMI DAN FISIOLOGI JANTUNG

Memahami anatomi dan fisiologi jantung merupakan fondasi yang esensial sebelum mempelajari interpretasi EKG. Jantung adalah organ berotot seukuran kepalan tangan yang terletak di rongga dada (mediastinum), sedikit miring ke kiri. Jantung berfungsi sebagai pompa yang mengedarkan darah ke seluruh tubuh, dan aktivitasnya diatur oleh sistem kelistrikan internal yang menghasilkan impuls ritmik 

#### 1.1 Letak, Ukuran, dan Bentuk Jantung

Jantung terletak di dalam rongga toraks, di antara kedua paru-paru, dengan posisi miring ke kiri. Ukuran jantung bervariasi sesuai dengan ukuran tubuh individu, namun secara umum sebesar kepalan tangan pemiliknya.

#### 1.2 Lapisan Dinding Jantung

Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan utama :

1.  **Endokardium:** Lapisan paling dalam yang melapisi ruang-ruang jantung dan katup. Lapisan ini bersifat halus untuk meminimalkan gesekan aliran darah.

2.  **Miokardium:** Lapisan otot jantung yang tebal dan bertanggung jawab atas kontraksi jantung. Ketebalan miokardium bervariasi; ventrikel kiri memiliki dinding miokardium yang paling tebal karena harus memompa darah ke seluruh tubuh melawan resistensi sistemik yang tinggi .

3.  **Epikardium:** Lapisan pelindung terluar yang merupakan bagian dari perikardium. Perikardium adalah kantung pelindung yang membungkus seluruh jantung dan menghasilkan cairan pelumas untuk mencegah gesekan dengan organ lain .

#### 1.3 Ruang-ruang Jantung dan Aliran Darah

Jantung memiliki empat ruang :

- **Atrium Kanan:** Menerima darah miskin oksigen dari seluruh tubuh melalui vena cava superior (dari tubuh bagian atas) dan vena cava inferior (dari tubuh bagian bawah).

- **Ventrikel Kanan:** Menerima darah dari atrium kanan dan memompanya ke paru-paru melalui arteri pulmonalis.

- **Atrium Kiri:** Menerima darah kaya oksigen dari paru-paru melalui vena pulmonalis.

- **Ventrikel Kiri:** Menerima darah dari atrium kiri dan memompanya ke seluruh tubuh melalui aorta.

Aliran darah melalui jantung terjadi dalam urutan: Atrium Kanan → Ventrikel Kanan → Paru-paru (untuk oksigenasi) → Atrium Kiri → Ventrikel Kiri → Seluruh Tubuh .

#### 1.4 Katup-katup Jantung

Katup jantung berfungsi untuk memastikan aliran darah berlangsung satu arah dan mencegah aliran balik :

- **Katup Trikuspid:** Antara atrium kanan dan ventrikel kanan.

- **Katup Mitral (Bikuspid):** Antara atrium kiri dan ventrikel kiri.

- **Katup Pulmonal:** Pada pintu keluar ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.

- **Katup Aorta:** Pada pintu keluar ventrikel kiri menuju aorta.

Dua katup pertama disebut katup atrioventrikular (AV), sedangkan dua katup terakhir disebut katup semilunar. Penutupan katup-katup ini menghasilkan bunyi jantung yang dapat didengar melalui auskultasi .

#### 1.5 Sistem Konduksi Listrik Jantung

Sistem konduksi jantung adalah jaringan khusus yang menghasilkan dan menghantarkan impuls listrik untuk mengoordinasikan kontraksi jantung. Sistem ini terdiri dari komponen-komponen berikut :

##### 1.5.1 Nodus Sinoatrial (SA Node)

Terletak di dinding atrium kanan bagian atas, nodus SA adalah "pacu jantung" alami yang memulai setiap detak jantung. Nodus SA menghasilkan impuls listrik secara spontan dengan frekuensi 60-100 kali per menit. Impuls dari nodus SA menyebar melalui atrium, menyebabkan depolarisasi atrium dan kontraksi (sistol atrium) .

##### 1.5.2 Nodus Atrioventrikular (AV Node)

Terletak di dasar atrium kanan dekat septum interventrikular, nodus AV berfungsi sebagai stasiun relay yang menerima impuls dari nodus SA. Nodus AV memiliki kemampuan untuk memperlambat konduksi impuls, memberikan waktu bagi atrium untuk berkontraksi dan mengisi ventrikel sebelum ventrikel berkontraksi. Jika nodus SA gagal, nodus AV dapat mengambil alih sebagai pacu jantung dengan frekuensi 40-60 kali per menit .

##### 1.5.3 Berkas His dan Cabang Berkas

Dari nodus AV, impuls memasuki berkas His (Bundle of His), yang terletak di septum interventrikular. Berkas His kemudian bercabang menjadi cabang berkas kanan dan kiri, yang menghantarkan impuls ke ventrikel kanan dan kiri .

##### 1.5.4 Serat Purkinje

Cabang-cabang berkas berakhir pada jaringan serat Purkinje, yang menyebar ke seluruh dinding ventrikel. Serat Purkinje bertanggung jawab untuk mendistribusikan impuls secara cepat ke seluruh miokardium ventrikel, menyebabkan kontraksi ventrikel yang terkoordinasi dan kuat. Jika semua pacu jantung di atasnya gagal, serat Purkinje dapat memacu jantung dengan frekuensi 20-40 kali per menit .

#### 1.6 Siklus Jantung dan Aktivitas Listrik

Siklus jantung terdiri dari fase sistol (kontraksi) dan diastol (relaksasi). Aktivitas listrik mendahului dan memicu kontraksi mekanis .

##### 1.6.1 Fase-fase Siklus Jantung

1.  **Sistol Atrium:** Dipicu oleh depolarisasi atrium (gelombang P pada EKG), atrium berkontraksi dan memompa darah ke ventrikel. Fase ini menyumbang sekitar 10% dari pengisian ventrikel .

2.  **Sistol Ventrikel:** Dimulai dengan depolarisasi ventrikel (kompleks QRS pada EKG). Ventrikel berkontraksi, tekanan intraventrikular meningkat, katup AV menutup (bunyi jantung S1), dan katup semilunar terbuka, memungkinkan darah dipompa ke arteri pulmonalis dan aorta.

3.  **Diastol Ventrikel:** Setelah repolarisasi ventrikel (gelombang T pada EKG), ventrikel berelaksasi. Tekanan intraventrikular turun, katup semilunar menutup (bunyi jantung S2), katup AV terbuka, dan ventrikel terisi darah secara pasif dari atrium .

##### 1.6.2 Hubungan EKG dengan Siklus Jantung

Aktivitas listrik yang terdeteksi pada EKG berkorelasi langsung dengan fase-fase siklus jantung:

- **Gelombang P:** Depolarisasi atrium, memicu sistol atrium .

- **Kompleks QRS:** Depolarisasi ventrikel, memicu sistol ventrikel .

- **Gelombang T:** Repolarisasi ventrikel, terjadi selama diastol ventrikel .

---

### BAB 2: PEREKAMAN EKG, KERTAS EKG, DAN SATUAN DALAM EKG

#### 2.1 Prinsip Dasar Perekaman EKG

Elektrokardiogram (EKG) adalah rekaman grafis aktivitas listrik jantung yang diperoleh melalui elektroda yang ditempatkan pada permukaan tubuh. Elektroda ini mendeteksi perubahan potensial listrik kecil yang dihasilkan oleh depolarisasi dan repolarisasi sel-sel otot jantung selama setiap siklus jantung .

#### 2.2 Sistem 12 Sandapan (Leads)

Sistem 12 sandapan merekam aktivitas listrik jantung dari 12 sudut pandang yang berbeda, memberikan gambaran yang komprehensif tentang aktivitas listrik jantung .

##### 2.2.1 Sandapan Ekstremitas (I, II, III)

Sandapan bipolar yang merekam perbedaan potensial antara dua elektroda ekstremitas:

- **Lead I:** Antara lengan kanan (-) dan lengan kiri (+)

- **Lead II:** Antara lengan kanan (-) dan kaki kiri (+)

- **Lead III:** Antara lengan kiri (-) dan kaki kiri (+)

##### 2.2.2 Sandapan Augmentasi (aVR, aVL, aVF)

Sandapan unipolar yang merekam potensial dari satu elektroda ekstremitas terhadap titik referensi netral:

- **aVR:** Lengan kanan (augmented Vector Right)

- **aVL:** Lengan kiri (augmented Vector Left)

- **aVF:** Kaki kiri (augmented Vector Foot)

##### 2.2.3 Sandapan Prekordial (V1-V6)

Sandapan unipolar yang ditempatkan pada dinding dada anterior untuk merekam aktivitas listrik jantung dari bidang horizontal:

- **V1:** ICR ke-4, garis sternal kanan

- **V2:** ICR ke-4, garis sternal kiri

- **V3:** Di antara V2 dan V4

- **V4:** ICR ke-5, garis midklavikula kiri

- **V5:** Garis aksilaris anterior kiri, sejajar dengan V4

- **V6:** Garis aksilaris media kiri, sejajar dengan V4

#### 2.3 Kertas EKG: Karakteristik dan Pengukuran

##### 2.3.1 Sistem Grid pada Kertas EKG

Kertas EKG memiliki grid dengan garis-garis tipis dan tebal. Pada kecepatan standar 25 mm/detik :

- **Garis tipis (kotak kecil):** Berjarak 1 mm, mewakili 0,04 detik (40 ms) pada sumbu horizontal dan 0,1 mV pada sumbu vertikal.

- **Garis tebal (kotak besar):** Berjarak 5 mm, mewakili 0,20 detik (200 ms) pada sumbu horizontal dan 0,5 mV pada sumbu vertikal.

- **Lima kotak besar = 1 detik.**

##### 2.3.2 Kecepatan Perekaman dan Kalibrasi

- **Kecepatan standar:** 25 mm/detik. Pada kecepatan ini, satu kotak besar (5 mm) = 0,2 detik, dan 5 kotak besar = 1 detik. Pada rekaman 10 detik, terdapat 50 kotak besar .

- **Kalibrasi standar:** 10 mm/mV. Sinyal kalibrasi setinggi 10 mm (dua kotak besar) menunjukkan bahwa amplitudo gelombang 10 mm setara dengan 1 mV .

#### 2.4 Satuan dan Interval Waktu dalam EKG

| Komponen | Deskripsi | Durasi Normal | Signifikansi Klinis |

|---|---|---|---|

| **Gelombang P** | Depolarisasi atrium | 0,06 - 0,12 detik | Perubahan menunjukkan gangguan konduksi atrium  |

| **Interval PR** | Awal P sampai awal QRS | 0,12 - 0,20 detik | Memanjang pada blok AV, memendek pada jalur aksesori  |

| **Kompleks QRS** | Depolarisasi ventrikel | < 0,12 detik | Lebar menunjukkan blok cabang berkas atau asal ventrikel  |

| **Segmen ST** | Awal S sampai akhir QRS | Isoelektrik | Elevasi/depresi menunjukkan iskemia atau cedera  |

| **Gelombang T** | Repolarisasi ventrikel | ~0,16 detik | Inversi/peaking menunjukkan iskemia atau gangguan elektrolit  |

| **Interval QT** | Awal QRS sampai akhir T | 0,34 - 0,43 detik | Memanjang meningkatkan risiko aritmia  |

---

### BAB 3: PEMBENTUKAN GELOMBANG EKG

#### 3.1 Dasar Elektrofisiologi Jantung

##### 3.1.1 Potensial Aksi Jantung

Sel-sel otot jantung (miokardium) memiliki sifat eksitabilitas dan konduktivitas. Pada keadaan istirahat (diastol), sel jantung memiliki potensial membran negatif (polarisasi). Ketika menerima rangsangan listrik yang cukup, terjadi perubahan cepat permeabilitas membran terhadap ion natrium (Na⁺) dan kalsium (Ca²⁺), menyebabkan depolarisasi (potensial aksi). Depolarisasi ini memicu kontraksi sel.

##### 3.1.2 Depolarisasi dan Repolarisasi

- **Depolarisasi:** Proses di mana sel menjadi kurang negatif (lebih positif) di dalam, menyebar sebagai gelombang listrik melalui jaringan. Depolarisasi atrium menghasilkan gelombang P, depolarisasi ventrikel menghasilkan kompleks QRS.

- **Repolarisasi:** Proses pemulihan sel kembali ke keadaan istirahat (polarisasi). Repolarisasi ventrikel menghasilkan gelombang T. Repolarisasi atrium terjadi selama kompleks QRS tetapi tidak terlihat karena tertutup oleh sinyal ventrikel yang lebih besar .

#### 3.2 Gelombang dan Interval EKG

EKG normal terdiri dari gelombang dan interval yang mencerminkan perjalanan impuls listrik melalui jantung .

##### 3.2.1 Gelombang P

Gelombang P adalah defleksi positif kecil pertama pada EKG, mencerminkan depolarisasi atrium. Gelombang P normal:

- Durasi: 0,06 - 0,12 detik

- Amplitudo: < 2,5 mm

- Bentuk: Bulat dan simetris

- Arah: Positif di lead I, II, aVF; negatif di aVR 

##### 3.2.2 Interval PR

Interval PR diukur dari awal gelombang P sampai awal kompleks QRS. Interval ini mencerminkan waktu yang dibutuhkan impuls untuk berjalan dari atrium melalui nodus AV, berkas His, dan cabang berkas sampai ke miokardium ventrikel .

- Durasi normal: 0,12 - 0,20 detik (3-5 kotak kecil)

##### 3.2.3 Kompleks QRS

Kompleks QRS mencerminkan depolarisasi ventrikel, yang merupakan sinyal listrik terbesar pada EKG .

- **Gelombang Q:** Defleksi negatif pertama. Gelombang Q normal berdurasi < 0,04 detik dan amplitudo < 25% tinggi gelombang R. Gelombang Q patologis (lebar ≥ 0,04 detik dan dalam ≥ 25% tinggi R) menunjukkan infark miokard .

- **Gelombang R:** Defleksi positif pertama.

- **Gelombang S:** Defleksi negatif setelah R.

- **Durasi QRS normal:** < 0,12 detik (< 3 kotak kecil)

##### 3.2.4 Segmen ST

Segmen ST adalah bagian antara akhir kompleks QRS dan awal gelombang T, mencerminkan periode awal repolarisasi ventrikel (diastol) .

- Normal: Isoelektrik (segaris dengan garis dasar)

- Elevasi ST (> 1 mm di lead ekstremitas atau > 2 mm di lead prekordial) menunjukkan cedera miokard akut (STEMI)

- Depresi ST menunjukkan iskemia miokard atau NSTEMI 

##### 3.2.5 Gelombang T

Gelombang T mencerminkan repolarisasi ventrikel .

- Arah: Biasanya positif di lead I, II, V3-V6; negatif di aVR

- Bentuk: Asimetris dengan ascending lambat dan descending cepat

- Perubahan: Gelombang T tinggi/puncak (hiperkalemia), inverted (iskemia), atau datar (hipokalemia) 

##### 3.2.6 Interval QT

Interval QT diukur dari awal kompleks QRS sampai akhir gelombang T, mencerminkan total waktu depolarisasi dan repolarisasi ventrikel .

- Durasi normal: 0,34 - 0,43 detik (tergantung frekuensi jantung)

- Diperbaiki untuk frekuensi jantung: QTc = QT / √(RR interval)

- Pemanjangan QT (> 0,45 detik pada pria, > 0,47 detik pada wanita) meningkatkan risiko aritmia ventrikel 

#### 3.3 Vektor dan Sudut Listrik Jantung

Aktivitas listrik jantung dapat digambarkan sebagai vektor (besaran dan arah). Rata-rata arah depolarisasi ventrikel disebut sumbu listrik jantung.

- Sumbu normal: -30° hingga +90°

- Deviasi aksis kiri: < -30°

- Deviasi aksis kanan: > +90° 

---

### BAB 4: LANGKAH-LANGKAH MEMBACA EKG

Interpretasi EKG memerlukan pendekatan yang sistematis dan terstruktur. "The Diagnostic Dozen" adalah kerangka kerja yang memastikan semua elemen penting dianalisis secara konsisten .

#### 4.1 Persiapan Sebelum Interpretasi

##### 4.1.1 Verifikasi Identitas Pasien dan Kualitas Rekaman

Langkah pertama sebelum interpretasi: 

- Periksa nama, jenis kelamin, dan usia pasien.

- Periksa tanggal dan waktu perekaman.

- Nilai kualitas rekaman: pastikan tidak ada artefak berlebihan (gerakan, listrik, atau otot) yang dapat mengganggu interpretasi.

- Periksa adanya kesalahan pemasangan lead (lead reversal) yang dapat menyebabkan pola yang abnormal .

##### 4.1.2 Kecepatan dan Kalibrasi

- **Kecepatan kertas:** Pastikan rekaman dilakukan pada kecepatan standar 25 mm/detik. Informasi ini biasanya tercetak pada setiap EKG. Jika kecepatan berbeda (misal 50 mm/detik), interval akan tampak lebih panjang dan durasi akan berbeda .

- **Kalibrasi:** Pastikan kalibrasi standar 10 mm/mV. Tanda kalibrasi biasanya muncul di awal atau akhir rekaman. Jika amplitudo sangat besar, kalibrasi mungkin diatur setengah standar (5 mm/mV) untuk menampilkan semua gelombang dalam satu halaman. Ini akan ditunjukkan oleh tanda kalibrasi dua tingkat .

#### 4.2 Langkah Sistematis Interpretasi EKG

##### 4.2.1 Menentukan Irama dan Reguleritas

- **Reguleritas:** Amati interval RR (jarak antara dua kompleks QRS yang berurutan). Jika interval RR konstan, irama teratur; jika bervariasi, irama tidak teratur.

- **Irama Sinus:** Identifikasi gelombang P sebelum setiap kompleks QRS dengan interval PR yang konstan. Ini menunjukkan bahwa impuls berasal dari nodus SA (irama sinus) .

- **Irama Non-sinus:** Jika tidak ada gelombang P atau gelombang P dengan morfologi abnormal, irama mungkin berasal dari atrium, sambungan AV, atau ventrikel .

##### 4.2.2 Menghitung Frekuensi Jantung

**Untuk irama teratur:** Gunakan metode 300: hitung jumlah kotak besar antara dua gelombang R yang berurutan, lalu bagi 300 dengan angka tersebut.

- 1 kotak besar = 300 bpm

- 2 kotak besar = 150 bpm

- 3 kotak besar = 100 bpm

- 4 kotak besar = 75 bpm

- 5 kotak besar = 60 bpm 

**Untuk irama tidak teratur:** Hitung jumlah kompleks QRS dalam 6 detik (30 kotak besar), lalu kalikan dengan 10 untuk mendapatkan denyut per menit .

##### 4.2.3 Menentukan Sumbu Listrik Jantung

- **Metode cepat:** Lihat lead I dan aVF.

    - Lead I positif dan aVF positif = sumbu normal (-30° hingga +90°)

    - Lead I positif dan aVF negatif = deviasi aksis kiri (< -30°)

    - Lead I negatif dan aVF positif = deviasi aksis kanan (> +90°)

    - Lead I negatif dan aVF negatif = sumbu ekstrem (indeterminate) 

##### 4.2.4 Analisis Gelombang P

- **Ada/Tidak:** Tidak adanya gelombang P dapat menunjukkan fibrilasi atrium, flutter atrium, atau irama sambungan AV.

- **Morfologi:** Gelombang P bifasik (V1) atau pelebaran (> 0,12 detik) menunjukkan pembesaran atrium.

- **Hubungan dengan QRS:** Rasio P:QRS 1:1 menunjukkan setiap kompleks QRS didahului oleh gelombang P. Rasio berbeda menunjukkan blok AV .

##### 4.2.5 Pengukuran Interval PR

- Interval PR = jarak dari awal gelombang P sampai awal kompleks QRS.

- **Normal:** 0,12 - 0,20 detik (3-5 kotak kecil).

- **Memanjang (> 0,20 detik):** Blok AV derajat satu.

- **Memendek (< 0,12 detik):** Sindrom pre-eksitasi (misal WPW) atau irama sambungan AV .

##### 4.2.6 Analisis Kompleks QRS

- **Durasi:**

    - **Normal (< 0,12 detik):** Impuls berjalan normal melalui sistem His-Purkinje.

    - **Lebar (≥ 0,12 detik):** Blok cabang berkas kanan atau kiri, atau irama ventrikel.

- **Amplitudo:** Peningkatan amplitudo dapat menunjukkan hipertrofi ventrikel.

- **Gelombang Q:** Gelombang Q patologis (≥ 0,04 detik, ≥ 25% tinggi R) menunjukkan infark miokard lama .

##### 4.2.7 Analisis Segmen ST

- **Normal:** Isoelektrik (segaris dengan garis dasar antara gelombang T dan P berikutnya).

- **Elevasi ST:** ≥ 1 mm di lead ekstremitas, ≥ 2 mm di lead prekordial (V1-V3) menunjukkan cedera miokard akut (STEMI) .

- **Depresi ST:** ≥ 0,5 mm menunjukkan iskemia miokard atau NSTEMI .

##### 4.2.8 Analisis Gelombang T

- **Arah:** Normalnya positif di lead I, II, V3-V6 dan negatif di aVR.

- **Inversi T:** Dapat menunjukkan iskemia, hipertrofi ventrikel, atau efek obat.

- **Gelombang T tinggi/puncak:** Hiperkalemia.

- **Gelombang T datar:** Hipokalemia .

##### 4.2.9 Pengukuran Interval QT

- **QTc = QT / √(RR interval).**

- **Normal:** < 0,45 detik (pria), < 0,47 detik (wanita).

- **Pemanjangan QTc:** Meningkatkan risiko torsade de pointes dan kematian jantung mendadak .

#### 4.3 Sintesis dan Korelasi Klinis

Langkah terakhir adalah menggabungkan semua temuan EKG ke dalam gambaran klinis yang utuh: 

- **Sintesis:** Apakah temuan EKG konsisten? Misal: elevasi ST di lead inferior (II, III, aVF) menunjukkan STEMI inferior.

- **Korelasi Klinis:** Sesuaikan dengan gejala pasien, riwayat medis, dan hasil pemeriksaan fisik. Misal: Pasien dengan nyeri dada dan elevasi ST memerlukan intervensi segera .

---

### BAB 5: EKG PADA ARITMIA YANG MENGANCAM JIWA (LETHAL ARRHYTHMIAS)

Aritmia yang mengancam jiwa adalah gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan henti jantung atau kematian mendadak jika tidak segera ditangani. Pengenalan cepat pada EKG sangat penting untuk inisiasi tindakan resusitasi yang tepat.

#### 5.1 Definisi dan Klasifikasi Aritmia

Aritmia adalah kelainan pada frekuensi, keteraturan, atau asal impuls jantung. Aritmia yang mengancam jiwa termasuk:

1.  Takikardia Ventrikel (VT)

2.  Fibrilasi Ventrikel (VF)

3.  Asistol

4.  Aktivitas Listrik Tanpa Denyut (PEA)

#### 5.2 Takikardia Ventrikel (Ventricular Tachycardia/VT)

##### 5.2.1 Gambaran EKG

- Frekuensi ventrikel > 100 bpm (sering > 150 bpm) .

- Kompleks QRS lebar (> 0,12 detik) dengan morfologi abnormal (monomorfik atau polimorfik).

- Tidak ada gelombang P yang jelas atau hubungan P dengan QRS.

- Dapat terjadi dengan atau tanpa denyut (pulseless VT).

##### 5.2.2 Tatalaksana Awal

- **VT dengan denyut:** Stabil: kardioversi elektif atau antiaritmia (amiodaron). Tidak stabil: kardioversi sinkron segera.

- **VT tanpa denyut (pulseless VT):** Defibrilasi segera, diikuti CPR dan pemberian epinefrin sesuai algoritma Henti Jantung Dewasa.

#### 5.3 Fibrilasi Ventrikel (Ventricular Fibrillation/VF)

##### 5.3.1 Gambaran EKG

- Aktivitas listrik ventrikel yang kacau dan tidak terkoordinasi.

- Tidak ada kompleks QRS yang jelas; gelombang fibrilasi dengan amplitudo dan frekuensi yang bervariasi.

- Tidak ada kontraksi ventrikel yang efektif → tidak ada curah jantung.

##### 5.3.2 Tatalaksana Awal

- Defibrilasi segera (kejutan 200 J biphasic).

- CPR berkualitas tinggi segera setelah kejutan.

- Pemberian epinefrin dan amiodaron sesuai algoritma .

#### 5.4 Asistol (Cardiac Standstill)

##### 5.4.1 Gambaran EKG

- Tidak ada aktivitas listrik ventrikel yang terdeteksi: garis lurus (flatline).

- Tidak ada kompleks QRS.

- Mungkin masih ada gelombang P pada tahap awal.

##### 5.4.2 Tatalaksana Awal

- CPR segera.

- Epinefrin setiap 3-5 menit.

- Identifikasi dan koreksi penyebab reversibel (hipoksia, hipovolemia, hipotermia, asidosis, ketidakseimbangan elektrolit, tamponade jantung, tension pneumothorax, dll).

#### 5.5 Aktivitas Listrik Tanpa Denyut (Pulseless Electrical Activity/PEA)

- Gambaran EKG menunjukkan irama yang seharusnya menghasilkan denyut (misal: irama sinus, takikardia ventrikel, atau irama lainnya) tetapi tidak teraba denyut nadi.

- Tidak ada kontraksi mekanis yang efektif meskipun ada aktivitas listrik.

- Tatalaksana: CPR, epinefrin, dan identifikasi/koreksi penyebab reversibel.

#### 5.6 Sindrom QT Panjang dan Risiko Aritmia

Pemanjangan QT dapat bersifat kongenital atau didapat (obat-obatan, gangguan elektrolit). Risiko utama adalah Torsade de Pointes, yaitu takikardia ventrikel polimorfik yang dapat berdegenerasi menjadi VF. Identifikasi pemanjangan QT pada EKG sangat penting untuk mencegah aritmia fatal .

---

### BAB 6: EKG PADA PASIEN DENGAN SINDROM KORONER AKUT (ACS)

Sindrom Koroner Akut (ACS) adalah spektrum kondisi yang disebabkan oleh iskemia miokard akut akibat penyumbatan sebagian atau total arteri koroner. EKG adalah alat diagnostik utama untuk membedakan antara berbagai jenis ACS.

#### 6.1 Definisi dan Patofisiologi ACS

ACS mencakup:

- **Angina Tidak Stabil (UA):** Iskemia miokard tanpa kerusakan sel yang signifikan.

- **Infark Miokard Tanpa Elevasi ST (NSTEMI):** Iskemia dengan kerusakan sel tetapi tanpa elevasi ST yang menetap.

- **Infark Miokard dengan Elevasi ST (STEMI):** Iskemia transmural dengan kerusakan sel yang luas, memerlukan intervensi revaskularisasi segera.

#### 6.2 Perubahan EKG pada Iskemia, Cedera, dan Infark

Perubahan EKG pada iskemia miokard berkembang secara progresif dari iskemia → cedera → infark :

##### 6.2.1 Iskemia: Gelombang T Inverted

- Iskemia subendokardial atau ringan: Gelombang T simetris dan terbalik (inverted).

- Iskemia subepikardial: Gelombang T tinggi dan runcing.

- Perubahan ini bersifat reversibel jika aliran darah segera dipulihkan .

##### 6.2.2 Cedera: Elevasi Segmen ST

- Cedera miokard yang lebih dalam: Elevasi segmen ST (> 1-2 mm di lead yang bersangkutan).

- Elevasi ST mencerminkan arus cedera dari sel-sel yang mengalami iskemia berat tetapi belum nekrotik.

- Elevasi ST yang menetap (> 20 menit) menunjukkan STEMI .

##### 6.2.3 Infark: Gelombang Q Patologis

- Nekrosis miokard menyebabkan hilangnya gaya listrik dari area tersebut.

- Gelombang Q patologis terbentuk: lebar ≥ 0,04 detik dan kedalaman ≥ 25% tinggi gelombang R.

- Gelombang Q dapat muncul dalam beberapa jam hingga hari setelah infark dan biasanya menetap (menunjukkan infark lama) .

#### 6.3 Infark Miokard dengan Elevasi ST (STEMI)

##### 6.3.1 Kriteria Diagnostik

Diagnosis STEMI ditegakkan jika terdapat:

1. Elevasi ST baru di titik J pada dua lead yang bersebelahan:

   - ≥ 1 mm (0,1 mV) di semua lead kecuali V2-V3.

   - ≥ 2 mm (0,2 mV) pada lead V2-V3 pada pria; ≥ 1,5 mm pada wanita.

2. Depresi ST di lead resiprokal (misal: depresi ST di lead inferior pada infark anterior).

##### 6.3.2 Lokalisasi Infark Berdasarkan Sandapan

| Lokasi Infark | Lead yang Terlibat | Perubahan EKG |

|---|---|---|

| **Anterior** | V1-V4 | Elevasi ST di V1-V4 (depresi resiprokal di II, III, aVF)  |

| **Anteroseptal** | V1-V3 | Elevasi ST di V1-V3 |

| **Anterolateral** | V4-V6, I, aVL | Elevasi ST di V4-V6, I, aVL (depresi resiprokal di II, III, aVF) |

| **Inferior** | II, III, aVF | Elevasi ST di II, III, aVF (depresi resiprokal di I, aVL)  |

| **Lateral** | I, aVL, V5-V6 | Elevasi ST di I, aVL, V5-V6 |

| **Posterior** | V7-V9 | Elevasi ST di lead posterior, depresi ST di V1-V3 (cermin) |

#### 6.4 Infark Miokard Tanpa Elevasi ST (NSTEMI) dan Angina Tidak Stabil

- **NSTEMI:** Depresi ST (≥ 0,5 mm) atau inversi gelombang T (simetris) pada dua lead atau lebih. Troponin positif menunjukkan kerusakan miokard .

- **Angina Tidak Stabil:** Perubahan EKG serupa dengan NSTEMI tetapi lebih ringan atau sementara. Troponin negatif.

- Perbedaan utama antara NSTEMI dan STEMI adalah ketiadaan elevasi ST yang menetap pada NSTEMI; keduanya memerlukan antikoagulasi dan antiplatelet, namun STEMI memerlukan revaskularisasi segera (PCI atau fibrinolitik).

#### 6.5 Mimikri STEMI: Diagnosis Banding

Elevasi ST tidak selalu berarti STEMI. Beberapa kondisi lain dapat menyebabkan elevasi ST: 

- **Perikarditis:** Elevasi ST difus (pada banyak lead) dengan depresi PR.

- **Hiperkalemia:** Gelombang T tinggi dan puncak, elevasi ST.

- **Repolarisasi Dini:** Elevasi ST jinak di lead prekordial dengan morfologi spesifik.

- **Aneurisma Ventrikel:** Elevasi ST menetap setelah infark lama.

- **Brugada Syndrome:** Elevasi ST di V1-V3 dengan morfologi khas.

#### 6.6 Perubahan EKG Dinamik pada ACS

Perubahan EKG pada ACS bersifat dinamik dan dapat berubah dengan cepat. Pencatatan serial (setiap 5-15 menit) sangat penting untuk menangkap perubahan yang terjadi. Pasien dengan nyeri dada dan EKG normal masih dapat mengalami STEMI, sehingga EKG serial diperlukan .

---

### GLOSARIUM

- **ACS (Acute Coronary Syndrome):** Spektrum kondisi akut yang disebabkan oleh iskemia miokard.

- **Artefak:** Gangguan pada rekaman EKG yang disebabkan oleh faktor eksternal seperti gerakan, listrik, atau otot.

- **Asistol:** Henti jantung dengan tidak adanya aktivitas listrik (garis lurus).

- **Depolarisasi:** Perubahan potensial listrik sel dari negatif ke positif, memicu kontraksi.

- **Ektopik:** Impuls listrik yang berasal dari luar nodus SA.

- **Fibrilasi Ventrikel:** Aktivitas listrik ventrikel yang kacau tanpa kontraksi efektif.

- **Infark Miokard:** Kematian sel otot jantung akibat iskemia berkepanjangan.

- **Iskemia:** Kurangnya aliran darah dan oksigen ke jaringan.

- **Lead (Sandapan):** Sudut pandang rekaman EKG dari pasangan elektroda.

- **NSTEMI:** Infark miokard tanpa elevasi ST yang menetap.

- **PEA (Pulseless Electrical Activity):** Aktivitas listrik jantung tanpa denyut yang efektif.

- **Repolarisasi:** Pemulihan potensial listrik sel ke keadaan istirahat.

- **Segmen ST:** Bagian EKG antara akhir QRS dan awal T, mencerminkan repolarisasi awal.

- **Sindrom QT Panjang:** Kondisi dengan interval QT yang memanjang, meningkatkan risiko aritmia fatal.

- **Sistol:** Fase kontraksi jantung.

- **STEMI:** Infark miokard dengan elevasi ST yang menetap, memerlukan intervensi segera.

- **Sumbu Listrik:** Arah rata-rata depolarisasi ventrikel pada bidang frontal.

- **Takikardia Ventrikel:** Irama ventrikel cepat dengan kompleks QRS lebar.

- **Ventrikel:** Ruang bawah jantung yang memompa darah.

---


### DAFTAR PUSTAKA

1. Open Resources for Nursing (Open RN). (2023). Chapter 7 Interpret Basic ECG. In K. Ernstmeyer & E. Christman (Eds.), *Nursing Advanced Skills*. Chippewa Valley Technical College. 

2. Aehlert, B. (2013). *ECGs Made Easy* (5th ed.). Elsevier/Mosby. 

3. Aehlert, B. (2018). *ECGs Made Easy* (6th ed.). Elsevier. 

4. Aly, A., & Dasgupta, S. (n.d.). Cardiology Part 1: Cardiovascular Physiology and Heart Diseases. In *Core Concepts of Pediatrics* (2nd ed.). University of Texas Medical Branch. 

5. McGraw Hill Medical. (n.d.). Chapter 24: A Step-by-Step Method of Interpretation. In *Access Cardiology*. 

6. Norav Medical. (2025). Resting ECG for Medical Institutions and Distributors. *Norav Medical Official Website*. 

7. Assimilate. (n.d.). How to interpret an ECG: A step by step guide. *Assimilate.one*. 

8. PhysioNet. (n.d.). ECG morphology. In *ECGSYN: A realistic ECG waveform generator*. 

9. Elsevier eLibrary. (n.d.). Electrocardiogram (ECG) Monitoring. 

10. UEN Digital Press. (n.d.). The Cardiac Cycle. In *Integrated Human Anatomy and Physiology Part 2*. 

Previous Post Next Post